Kamis, 16 Mei 2013

Makalah Ergometri serta Automasi dan Mekanisasi


BAB I
PENDAHULUAN


1.1  LATAR BELAKANG
Perkembangan teknologi saat ini begitu pesatnya, sehingga peralatan sudah menjadi kebutuhan pokok pada berbagai lapangan pekerjaan. Artinya peralatan dan teknologi merupakan penunjang yang penting dalam upaya meningkatkan produktivitas untuk berbagai jenis pekerjaan. Disamping itu disisi lain akan terjadi dampak negatifnya, bila kita kurang waspada menghadapi bahaya potensial yang mungkin timbul.
Hal ini tidak akan terjadi jika dapat diantisipasi berbagai risiko yang mempengaruhi kehidupan para pekerja. berbagai risiko tersebut adalah kemungkinan terjadinya Penyakit Akibat Kerja, Penyakit yang berhubungan dengan pekerjaan dan Kecelakaan Akibat Kerja yang dapat menyebabkan kecacatan atau kematian. Antisipasi ini harus dilakukan oleh semua pihak dengan cara penyesuaian antara pekerja, proses kerja dan lingkungan kerja. Pendekatan ini dikenal sebagai pendekatan ergonomik.
Dalam makalah ini kami akan menjelaskan tentang Ergometri, Automasi dan Mekanisasi dalam ergonomi agar kita makin mengerti dan memahami tentang hal-hal yang ada dalam ergonomi.



1.2  RUMUSAN MASALAH
1.      Apa pengertian Ergonomi?
2.      Apa yang dimaksud dengan ergometri? Dan berikan penjelasannya!
3.      apa yang dimaksud dengan automasi dan mekanisasi? Berikan penjelasannya

1.3  TUJUAN
1.      Untuk mengetahui apa pengertian ergonomic
2.      Untuk mengetahui apa pengertian ergometri dan penjelasannya
3.      Untuk mengetahui pengertian automasi dan mekanisasi, serta penjelasannya


BAB II
PEMBAHASAN

2.1 PENGERTIAN ERGONOMI
            Istilah ergonomi ilmu untuk mengukur kerja baik beban kerja maupun kemampuan kerja faktor manusianya

2.2 pengertian ergometri
Ergometri adalah ilmu untuk mengukur kerja baik beban kerja maupun kemampuan kerja faktor manusianya. Biasanya dua hal yang diukur dan dievaluasi, yaitu:
a.       Pemakaian energi oleh seorang tenaga kerja untuk melakukan pekerjaannya.
b.      Kemampuan kerja fisik maksimum atau sub-maksimum dari seorang tenaga kerja.
Oleh tubuh, ketika seseorang bekerja, energi kimia diubah menjadi energi mekanis dan panas. Untuk mendapat energi kimia diperlukan O2 sebagai bahan pembakar. Sehubungan dengan itu, banyaknya O2 yang dipergunakan untuk suatu kegiatan dalam menjalankan pekerjaan menjadi petunjuk mengenai pemakaian energi. Cara menentukan pemakaian energi dengan pengukuran O2 adalah cara tidak langsung, sebenarnya ada cara langsung yaitu mengukur kalori yang dikeluarkan oleh tenaga kerja dengan menggunakan alat calorimeter, tetapi cara demikian hanya dapat dikerjakan di laboratorium yang sangat canggih dan khusus. Dari pemakaian O2, banyaknya kalori yang dipakai untuk keperluan suatu pekerjaan dihitung dengan dasar persamaan 1 liter O2  = 4,7-5,0 kilokalori (kalori).
Untuk menentukan pemakaian tenaga pada pekerjaan sehari-hari, perlu dilakukan inventarisasi dari kegiatan seluruh hari.yang meliputi tidur, duduk, berjalan, bekerja, dan sebagainya dan berapa lama waktu berlangsungnya masing-masing kegiatan tersebut. Untuk setiap kegiatan, kemudian diukur pemakaian O2 atau digunakan nilai kalori kegiatan menurut table yang telah dibuat oleh peneliti atau dipublikasikan oleh instansi resmi. Pengukuran dan penilaian penggunaan energy biasanya dilakukan kepada tenaga kerja ketika sedang melakukan pekerjaannya. Untuk maksud tersebut, perlu metoda pengukuran O2  waktu tenaga kerja bekerja dan juga alat-alat yang digunakan. Alat dari metodologi yang digunakan adalah:
1.      Kantung Douglas. Dengan alat ini, tenaga kerja, melalui pipa dan katup meniupkan udara nafasnya ke dalam kantung selama waktu tertentu sehingga udara nafasnya terkumpul dalam kantung tersebut. Volume udara diukur dengan meteran gas dan udara dianalisis terhadap kadar O2, CO2, dan N2. Waktu pengukuran terbatas selama 2-5 menit, namun cara ini tetap merupakan cara yang sangat dipercaya.
2.      Meteran-Gas Kafranyi-Michaelis. Alat ini mengumpulkan dan mengukur udara ekspirasi secara terus-menerus dan mengambil sampel udara pada waktu-waktu tertentu. Lamanya pengukuran dengan alat ini dapat dilakukan 20-30 menit.
3.      Pnemotakhograf Wolf. Alat ini mengukur udara ekspirasi secara elektronis dan mengambil sampel udara dengan pompa elektris.
4.      Cara analisis kontinyu. Suatu alat yang menggabungkan pengukuran kontinyu dari udara ekspirasi dengan analisis gas secara polarografis, sedangkan pengukuran oksigen sewaktu-waktu dapat dibaca oleh pengamat melalui cara telemetris.
5.      Volume udara perbapasan per menit. Untuk menghindari analisis gas, maka kadang-kadang dipakai volume udara pernapasan per menit sebagai indicator pemakaian oksigen dan pengerahan energy. Dibayangkan, bahwa volume demikian sangat tergantung dari berbagai factor luar dan dalam tubuh sendiri. Maka dari itu penggunaannya sangat terbatas.
6.      Denyut jantung. Sebagai cara sederhana dapat dipakai bilangan denyut jantung untuk indeks penggunaan oksigen dan juga energy yang dipakai. Mudahnya cara ini dikerjakan menjamin kemungkinan penerapannya yang sangat luas, lebih-lebih mengingat, bahwa pengukuran penggunaan energy dengan memakai parameter denyut jantung dapat dilakukan sepanjang wakktu kerja dengan pengukuran langsung atau merekamnya secara telemetris atau menggunakan tape recorder. Denyut jantung berubah menurut beban kerja fisiologis. Kelemahannya ialah bahwa denyut jantung berubah pula pada posisi tubuh, keadaan lingkungan dan kondisi lain seperti kelelahan, emosi bahkan aktivitas seseorang diluar pekerjaan seperti misalnya merokok.
Hasil pengukuran penggunaan energy menurut jenis kegiatan seperti bekerja mengerjakan pekerjaan ringan seperti sambil duduk atau bekerja dengan posisi berdiri menoperasikan mesin dan lainnya disajikan dalam data atau tabel. BELUM ADA LANJUTANNYA.
Kemampuan fisik maksimum (sub-maksimum) dapat diukur dengan cara langsung terhadap kemampuan jantung. Sebenarnya pengukuran kemampuan otot pada umumnya dapat juga memberikan derajat ketelitian tinggi bagi penilaian kapasitas kerja seseorang. Berdasarkan fisiologis kerja, pemakaian oksigen meningkat dengan semakin besarnya energy yang digunakan oleh tubuh untuk bekerja, tetapi peningkatan besarnya energy tersebut ada maksimumnya, yaitu sesudah oksigen mencapai kadar jenuh dalam darah. Penggunaan oksigen pada tingkat maksimum ini, menentukan kapasitas aerobic (proses metabolisme dengan penggunaan oksigen) dari tubuh. Kenyataannya, sesudah kadar maksimum oksigen darah dicapai, sedangkan masih diperlukan pengerahan energy yang lebih besar lagi, tubuh masih juga dapat bekerja dengan pengerahan energy yang lebih besar tetapi hanya untuk waktu yang tidak lama. Fenomin seperti itu dilakukan dengan metabolisme anaerobic (tanpa oksigen). Pengukuran kapasitas aerobic maksimum mengandung risiko dan sangat berbahaya terutama menghadapi orang yang berusia lanjut atau penderita insufisiensi jantng koroner. Untuk menghindari risiko demikian, pengukuran tidak dilakukan secara langsung terhadap kapasitas aerobic maksimum melainkan kapasitas aerobic sub-maksimum dengan metod pengukuran secara tidak langsung.
Cara mengevaluasi kemampuan kerja fisik yang tidak langsung adalah sebagai berikut:
1.      Nomogram Astrand. Kapasitas aerobic dinilai dari factor usia, berat badan dan bilangan denyut nadi yang diukur pada suatu kegiatan sub-maksimal.
Alat dan langkah kegiatan uji fisik tersebut adalah sebagai berikut:
a.       Ergometer. Ergometer sepeda bekerja dengan mekanisme mengayuh pedal sedangkan beban kerja adalah energy untuk mengatasi hambatan yang diakibatkan oleh geseka rantai atau rem elektromagnetis. Besarnya tahanan ergometer sepeda harus dikalibrasi. Frekuensi memutar pedal adalah 50-60 per menit. Beban kerja dapat dinyatakan dalam Kgm/menit, Newton-meter (Nm)/detik (1 Kgm/menit= 0,16 Nm/detik), atau Watt ( 1 W= 1 Nm/detik sesuai dengan 6 Kgm/menit). Efisiensi mekanis relative menetap dan energy diperlukan 4,4 kali energy kerja mekanis. Suatu speedometer dipakai untuk mengatur kecepatan mengayuh pedal. Ergometer engkol dibuat untuk mengukur penggunaan energy pada pekerjaan tangan dan terdiri dari engkol dengan garis menengah  30 cm serta porosnya di tempatkan 1 meter di atas lantai. Kebanyakan orang mampu memulai kegiatan dengan energy 300 Kgm/menit dan kemudian ditingkatkan dengan tambahan 150-300 Kgm/menit.
b.      Uji naik-turun bangku (stepping test). Individu yang diuji kemampuan kerja fisiknya melakukan sejumlah aktivitas fisik menetap dengan naik-turun suatu bangku. Energy yang digunakan untuk melakukan aktivitas fisik tersebut diperhitungkan 5,7 x energy yang diperlukan untuk mengankat tubuh. Hasil perhitungan tersebut tergantung pada ukuran tinggi bangku dan frekuensi naik-turun bangku. Untuk orang muda, agar hasil pengukuran dicapai maksimal, tinggi bangku sekurang-kurangnya 40-50 cm dan keecepatan naik-turun 15-45 kali per menit. Cara naik bangku harus diupayakan sedemikian rupa, sehingga pusat berat badan jatuh pada titik tinggi naik. Dengan tinggi bangku dan frekuensi naik-turun demikian, denyut jantung menjadi 110-150 per menit. Uji naik-turun bangku menurut Master menggunakkan bangku dengan injakan ganda (dobel) masing-masing setinggi 23 cm yang menyebabkan efesiensi mekanis berkurang, dengan cara ini energy yang diperlukan 6,1 x kerja mekanis mengangkat badan. Energy yang dipakai untuk mengangkat beban demikian adalah 150-300 Kgm/menit.
c.       Treadmill. Suatu landasan berjalan (lopende baan) bergerak pada suatu permukaan dengan tenaga motor listrik. Kecepatan bergeraknya landasan dan sudut kemiringan dapat diubah dan diatur. Individu yang diuji kemampuan kerja fisiknua harus berjalan berlawanan dengan arah gerakan landasan berjalan, agar posisi pijakannya tetap dapat dipertahankan. Cara ini lebih banyak digunakan dan memiliki aspek yang menguntungkan disbanding dengan pemakaian ergometer. Hasil pengukuran penggunaan oksigen maksimum yang diukur dengan bergerak landasan 80m/detik kira-kira 3 x waktu istirahat. Kenaikan pengerahan energy olh 2,5% perubahan sudut landasan berakibat kenaian energy yang sama dengan peningkatana metabolisme untuk menghasilkan energy yang diperlukan.
2.      Uji kapasitas kerja fisik (Test of physical working capacity = PWC 170). Bilangan denyut jantung meningkata dengan semakin beratnya beban kerja, tetapi sesudah dicapai bilangan denyut jantung 170/menit kenaikan nadi hamper tidak mempengaruhi hasil kerja. Jika diketahui hubungan antara beban kerja fisik dengan bilangan nadi/menit, maka dapat diketahui kemampuan kerja fisik seorang tenaga kerja. Untuk menerapkan cara ini perlu waktu dan cara ini juga sulit digunakan untuk pengujian kapasitas kerja tenaga kerja dalam jumlah besar.
3.      Uji naik-turun bangku Harvard. Agar dihindari pengukuran dan pencatatan bilangan denyut jantung selama waktu bekerja, yang pelaksanannya biasanya sulit dilakukan, diupayakan suatu cara untuk menentukan kapasitas kerja fisik dengan menilai pemulihandenyut jantung sesudahnya selesai menjalankan kegiatan. Cara ii berdasarkkan prinsip bahwa dengan beban kerja dari suatu aktivitas terjadi pengerahan energy yaitu waktu aktivitas tersebut sedang berlangsung tetapi selanjutnya sesudah aktivitas berhenti penggunaan energy akan berkurang dan akhirnya pulih kembali kepada keadaan sebelum kegiatan. Pada waktu pemulihan, bilangan denyutan jantung per menit mulai berkurang dan terus menurun selama pemulihan serta waktu pemulihan kepada keadaan semula akan lebih pendek pada individu yang mempunyai kapasitas kerja fisik yang lebih baik. Uji Harvard hanya memerlukan bangku dengan tinggi 51 cm, kronometer dan metronome. Kecepatan naik-turun bangku dari Harvard adlaah 30 langkah per menit. Lamanya waktu uji naik-turun bangku adalah sejak dimulainya aktivitas naik-turun bangku sampai tepat dirasakan kelelahan oleh individu yang diuji kapasitas kerjanya atau selama waktu 5 menit. Bilangan nadi dihitung selama 30 detik dan dimulai setelah 1 meni kegiatan dihentikan. Uji naik-turun bangku ini sederhana, mudaah dilakukan, tanpa risiko dan tidak perlu dilaksanakan hanya oleh orang yang ahli. Seperti halnya untuk cara lainnya, penggunaan data hasil uji turun bangku Harvard harus dilakukan dengan cermat.
Selain itu, dapat pula dipakai nomogram untuk menentukan indeks kapasitas fisik dengan menggunakan modifikasi uji naik-turun bangku, yaitu bilangan denyyut nadi dihitung 3 kali selama pemulihan yaitu sesudh menit pertama, kedua dan keempat (masing-masing dihitung untuk 30 detik). Dari 2 kali jumlah perhitungn nadi 3 kali (A) dan lamanya naik-turun bangku dalam detik (C), dapat ditemukan indeks kesegaran jasmani (D). (Diagram 3). Adapun penafsiran dari indeks kesegaran jasmani tersebut adalah: dibawah 50 buruk, 50-80 sedang dan diatas 80 baik. (GAMBAR DIAGRAM 3)



Kapasitas aerobic dipegaruhi oleh beberapa factor. Pada pekerjaan yang sifatnya mengangkat berat badan (seperti uji naik-turun bangku), energy yang dibutuhkan proposional dengan berat badan, sehingga oksigen yang dipakai sebaiknya dinyatakan dalam cm3/Kg berat badan. Tidak demikian halnya pada pekerjaan yang harus memidahkan beban diluar badan, dalam hal ini kapasitas aerobic lebih baik dinyatakan dalam nilai absolute. Bilangan denyut jantung maksimum berkurang menurut bertambahnya usia, hal ini mempengaruhi penafsiran kemampuan aerobic pada pembebanan energy sub-maksimal an oleh karenanya nilai yang didapat dari nomogram astrand perlu dikoreksi (Tabel 41):
Kapasitas aerobic maksimum orang laki berkurang secara bertingkat menurut periode waktu 25-30 tahun dan pada usia 70 tahun nilainya hanya setengah dari yang berusia 20 tahun. Pada wanita, puncak kapasitas aerobic terdapat pada masa puberas, sedangkan penurunan kapasitas tersebut terutama terjadi kemudian pada saat menopause. Kapasitas aerobic rerata per Kg berat badan wanita muda adalah 70% daripada laki-laki muda.
Pada semua masyarakat, kemampuan aerobic maksimum menunjukan perbedaan individual. Nilainya tertinggi dimiliki oleh olaharagawan terutama pelari cepat. Pengaruh pekerjaan terhadap kapasitas aerobic tida sebesar olahraga, namu begitu aneka pekerjaan yang mensyaratkan pengerahan energy yang tidak sedikit misalnya pekerjaan memotong kayu gelondongan atau membelah-belahnya yang dilakukan manual sangat besar pengaruhnya terhadap kemampuan aerobic. Dalam masyaraat industry, akivitas olahraga yang dilakukan pada waktu luang berefek lebih berarti kepada kapasitas aerobic daripada pekerjaan itu sendiri.
Jika seseorang mulai berlatih, denyut jantungnya tidak cepat meningkat menyesuaikan pemenuhan kebutuhan oksigen untuk kegiatan sub-maksimal, sedangkan pada waktu kegiatan dihentikan denyut jantung tidak segera kembali kepada denyut jantung sebelum dimulainya kegiatan melainkan memerlukan waktu pemulihan yang lebih panjang. Pada orang yang terlatih atau terampil, bilangan denyut jantung kurang dari orang tidak berlatih atau tidak mempunyai keterampilan. Demikian juga, pemulihan denyut jantuung dari orang terlatih lebih cepat daripada orang yang tidak terlatih. Latihan yang berat dan lama yang dilakukan secara teratur dapat menyebabkan kenaikan kemampuan aerobic kira-kira 10%. (Grafik 16).
Jika tenaga kerja akan dipekerjakan pada pekerjaan berat, uji fungsi kardiovaskular dapat dopergunakan untuk meonentukan kesanggupan tenaga kerja melaksanakan pekerjaannya. Dari pengalaman, jika pekerjaan dilakukan dengan 35-50% kapasitas aerobic maksimum, tidak terjadi kelelahan yang mencolok pada tenaga kerja tidak banyak mengadukan keluhan fisik. Dengan menggunakan bilangan denyut jantung sebagai indikator, maka sebainya denyut jantung para pekerja tidak melebihi 120 per menit bahkan sebaiknya 100 atau dibawahnya. Namun, pasti tergantung dari beratnya beban kerja, bilangan denyut jantung demikian tidak mungkin selalu dapat diterapkan.


2.3 Otomasi dan Mekanisasi
OTOMASI DAN MEKANISASI
            Istilah otomasi pertama-tama diajukan oleh Harder dari Ford Moto Company. Mula-mula konsep otomasi Detroit adalah seni penggunaan alat-alat mekanik untuk mengerjakan potongan bahan pekerjaan ke atau dari alat melanjutkan dalam proses seterusnya, memisahkan sisa-sisa dari proses dari malakukan secara berurutan menurut waktu sesuai dengan proses produksi sehingga sebagian atau keseluruhan dari proses dapat dikendalikan dengan cara tekan tombol pada tempat strategis. Sesudah itu Diebold mendefinisikan otomasi sebangao penggunaan mesin untuk menjalankan mesin. Definisi-definisi di atas terlalu menonjolkan aspek produktivitas dam teknologi, sehingga elemen manusia terlupakan. Maka dari itu, otomasi harus diartikan suatu sistem yang meliputi alat-alat mekanik, peralatan kerja lain dan manusia yang diperlukan untuk mengerjakan bahan atau mengolah informasi menjadi suatu produk barang atau jasa yang dikehendaki. Pertimbangan pertama otomasi adalah pengoptimalan produksi oleh manusia dan atay mesin. Yang menentukan tingkat yang diberikan kepada proses produksi (input) dan hasil obyektif dari proses produksi (output) serta pengaruh lingkungan terhadap hubungan manusia dan proses produksi tersebut. Demikian pula hubungan antara manusia dan mesin mengenai kemampuan dan limitasi masing-masing merupakan suatu faktor yang perlu diperhatikan

BAGAN 4

            Mekanisasi adalah penggantian manusia sebagai sumber tenaga (gaya, kekuatan) atau sebagai alat untuk memberikan informasi dalam pengelolaan siati operasi atau proses. Mekaniasi adalah salah satu komponen dari otomasi. Terdapat empat tingkat dalam perkembangan mekanisasi/otomasi, yaitu dari penggunaan alat bantu pada pekerjaan tangan (kerja manual) sampai kepada mekanisasi/ otomasi pernuh dengan penggunaan mesin yang luar biasa canggih. Menurut fungsinya tingkat-tingkat tersebut adalah
1.      Fungsi penunjang dari mekanisasi/ otomasi dengan maksud menyempurnakan atau memperluas kemampuan manusi (contoh penggunaan alat-alat manual guna meningkatan kemampuan kerja otot seperti pisau, cangkul, gergaji manual, alat ukur yang emperbaiki hasil pengukuran tanpa alat, mikroskop untuk memperbaiki kemampuan indera mata, dan lain-lain)
2.      Fungsi melipat-gandakan tenaga untuk mengatasi keterbatasan kekuatan manusia, baik dalam hal besar maupun lama waktunya (penggunaan tenaga alam atau bahan bakar, listrik, tenaga nuklir)
3.      Fungsi meringankan terutama dalam pengendalian operaso atau proses yang rumit/canggih (missal pengukuran otomatis/terus-meneris, pengendalian program, pengaturan, analisis data)
4.      Fungsi menggantikan manusia yaitu tenaga manusia digantikan untuk sebagian atau seluruhnya atau pada operas/proses yang dijalankan dengan menerapkan mekanisasi/otomasi.


Mesin
Manusia
Kecepatan
Luar biasa
Kelambatan dalam bilangan detik
Tenaga
Dapat diatur dengan baik : besar, menetap, dan dapat dibuat kekuatan standar
Dua tenaga kuda (TK) untuk 10 detik:0,5 TK utuk beberapa menit dan 0,2 TK untuk pekerjaan terus-menerus sehari
Keseragaman
Cocok untuk pekerjaan rutin, berulang dan perlu ketepatan
Tidal dapat dipercaya. Perlu dimonitor dengan mesin
Kegiatan jamak
Banyak saluran
Satu saluran
Ingatan
Terbaik untuk memproduksi sesuatu yang ditentukan dan bersifat penyimpanan memori
Segala macam dengan pendekatan dari berbagai sudut, baik untuk dipakai menetapkan komse[ dan strategi
Berfikir
Deduktif baik
Induktif baik
Hitung-menghitung
Cepat dan tepat, tetapi tidak memiliki kemampuan untuk melakukan koreksi
Lambat dan sangat mungkin membuat kesalahan, tetapi cukup kemampuan
Pendirian
Dapat menjadi indera tambahan seperti kemampuan menangkap gelombang elektromagnetis yang mengion mata sekaligus






Dapat dibuat tidak peka terhadap rangsangan luar
Menerima rangsangan dari berbagai energi dan mengolahnya secara serta-merta misalnya menentukan lokasi relative, gerakan dan warna, baik untuk menentukan pola, misalnya dapat menentukan lokasi dari kebisingan yang tinggi intensitasnya

Dipengaruhi oleh panas, suhu dingin, kebisingan dan getaran (yang intensitasnya melewati batas tertentu)
Reaksi terjadap beban yang melebihi kemampuan
Kerusakan tiba-tiba
Degradasi
Kepintaran
Tidak ada
Dapat menyesuaikan terhadap sesuatu yang tidak dapat di duga; memiliki kemampian meramalkan sesuatu
Kecakapan manipulasi
Khusus
Sangat besar

            Manusia terbatas dalam hal kecepatan dan ketelitian. Selain itu, kecepatan kerja tenaga manusia yang lebih besar selalu disertai oleh penurunan ketelitian. Dalam hal inilah otomasi dan mekanisasi memegang peranan sangat penting dalam meningkatkan kecepatan dan ketelitian suatu operasi atau proses (Grafik 18)
            Tenaga kerja yang bekerja pada proses produksi yang menerapkan otomasi termasuk mekanisasi adalah sebaga berikut :
a.       Tenaga kerja yang bekerja pada proses yang padanya diterapkan otomasi dituntut untuk berperilaku efisien, memiliki motivasi tinggi dalam hal mewujudkan produktivitas dan kualitas prima dengan posisi sentral pada sistem manusia-mesin
b.      Penerapan otomasi menimbulkan aneka tekanan mental-psikologis yang menjadi beban kepada tenaga kerja uang berada pada sistem tersebut, dan untuk hal tersebut sangat perlu kesiapan sosio-kultural yang kondusof pada setiap dan seluruh tenaga kerja. Contoh tragis dari ketidaksiapan demikian adalah histersia massa (mass hysteria) atau kehilangan nilai atau hati nurani kemanusiaan (loss of human dignity). Hysteria massa biasanya dialami oleh tenaga kerja yang migrasi dari sector tradisional ke sector modern, menurun atau hilangnya rasa kemanusiaan dapat diderita oleh tenaga kerja yang misalnya sendirian berada di tempat kerja yang capital intensif sehingga yang bersangkutan tenggelam dalam lingkungan tempat bekerja/beroperasinya mesin
c.       Berbagai kemampuan khusus/keterampilan/keahlian harus dimiliki oleh setiap faktor manusia menurut peran masing-masing dalam sistem yang menerapkan otomasi termasuk mekanisasi

Hygiene perusahaan dan kesehatan kerja pada umumnya, dan ergonomic pada khususnya atau juga psikologi kerja/industri, harus memberi jawaban kepada pengaruh timbal balik manusia dengan penerapan otomasi termasuk mekanisasi tersebut. Pada dasarnya mesin merupakan produk kebudayaan manusia dan tujuan otomasi yang sesungguhnya adalah menyejahterakan 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar